Showing posts with label Makna. Show all posts
Showing posts with label Makna. Show all posts

Thursday, February 19, 2015

Tiga Langkah yang Sebaiknya Dilakukan Sebelum Memberi atau Menerima Kabar




"TRIPLE FILTER Test" dalam menyampaikan kabar berita...

Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yg tinggi dan sangat terhormat.
Suatu hari seorang kenalannya bertemu dengan filsuf besar itu dan berkata, "Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang sahabat Anda?"
"Tunggu sebentar," Socrates menjawab. "Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana yang disebut Triple Filter Test.




Filter petama adalah KEBENARAN,
"Apakah Anda yakin bahwa apa yg akan Anda katakan pada saya itu benar?"
"Tidak", jawab orang itu, "Sebenarnya saya HANYA MENDENGAR tentang itu".
"Baik", kata Socrates. "Jadi Anda tidak yakin itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua".

Filter ke 2 adalah KEBAIKAN,
Apakah yang akan Anda katakan tentang sahabat saya itu sesuatu yg baik?"
"Tidak, malah sebaliknya..."
Jadi, Socrates melanjutkan, "Anda akan menceritakan sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar". Anda masih memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi, yaitu filter ke 3.

Filter ke 3 adalah KEGUNAAN,
Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?"
"Tidak, sama sekali tidak"...
Jadi, Socrates menyimpulkannya, "Bila Anda ingin menceritakan sesuatu yg belum tentu benar, bukan tentang kebaikan, dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus menceritakan itu kepada saya?"

Itulah mengapa Socrates dianggap filsuf besar dan sangat terhormat.
Kawan-kawan, gunakan triple filter test setiap kali Anda mendengar sesuatu tentang sahabat anda. Jika bukan KEBENARAN, bukan KEBAIKAN, dan tidak ada KEGUNAAN positif, tidak perlu anda terima. Dan apabila anda terlanjur mendengarnya, jangan sampaikan pada orang lain, dan jangan menyakiti hati orang lain...

Semoga bermanfaat untuk sahabat-sahabat


Sumber: facebook.com

Monday, February 9, 2015

Makna Tersirat Dibalik Lagu Gundul-Gundul Pacul




Ada yang menarik dari sebuah kajian tentang lagu dolanan Jawa yang sudah lama dikenal oleh masyarakat luas secara turun temurun. Lagu ini judulya Gundul-Gundul Pacul. Syairnya sangat sederhana dan banyak anak-anak Jawa yang hafal semuanya. Namun siapa sangka jika lagu sederhana ini ternyata memiliki makna filosofis kehidupan yang sangat dalam?



Mari kita simak filosofi Lagu Gundul-Gundul Pacul, yang banyak tersebar di media sosial.

“Gundul-gundul Pacul Cul
Gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul kul
Gembelengan

Wakul nggelimpang segane
dadi sak latar 2x”

Gundul adalah kepala, dan orang jawa seringkali menggunakan istilah ini untuk kepala yang tidak memiliki rambut alias plontos. Namun kita akan melihat ‘kepala’ itu sendiri yang dianggap selama ini oleh para kawula sebagai lambang kehormatan dan kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota.

Sedangkan pacul: adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Ada juga menurut Orang Jawa yang memaknai pacul sebagai papat kang ucul (empat yang lepas).

Artinya bahwa: kemuliaan seseorang akan sangat tergantung kepada empat hal, yaitu: bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya. Karena itu ‘Gundul-gundul Pacul’ bisa dimaknai dengan dua hal:

Seorang pemimpin harus amanah, jangan hanya memikirkan kehormatannya. Gambaran seorang pemimpin yang tidak amanah, yang sudah kehilangan empat indra dan tidak sanggup lagi untuk menggunakan empat indra tersebut sebaik-baiknya.

Adapun Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

Jadi, “Gundul-gundul pacul cul gembelengan’ artinya seorang pemimpin yang sejatinya harus menunaikan amanah rakyat ternyata menjadi sombong, selengekan, clelak-clelek, dan menjadikan kehormatannya sebagai sebuah permainan.

Sedangkan ‘Nyunggi-nyunggi wakul kul” artinya seorang pemimpin harus selalu nyunggi wakul (memikul bakul/tempat nasi, yang berarti mengupayakan kesejahteraan rakyat dan menjunjung amanah rakyat)

Namun dalam realitasnya sering ditemui pemimpin yang ‘nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan’ atau pemimpin yang hanya mementingkan perut dan udelnya sendiri akhirnya wakul ngglimpang (amanah jatuh tidak dapat dipertahankan). Segane dadi sak latar (berantakan sia-sia, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat)

Inti sarinya, mari kita memilih pemimpin yang amanah dan bertanggungjawab. Bukan pemimpin yang mementingkan kepentingannya sendiri. Sedang bagi para pemimpin sudah menjadi kewajiban kalian untuk menggunakan empat indra dengan sebaik mungkin agar tidak lepas hingga kalian mengabaikan amanah dan sia-sia.

Sumber: eramuslim.com

Dengan sedikit editan