Tuesday, February 10, 2015

Pidato M. Natsir : Pilihan Kita, Satu dari Dua: Sekulerisme atau Agama....



Teks Pidato M. Natsir di muka sidang pleno Badan Konstituante, 20 Juli 1957 di Bandung.



Sdr. Ketua!

“Sejarah manusia umumnya pada tinjauan terakhirnya, memberikan kepada kita pada final analisisnya hanya dua alternatif  untuk meletakkan dasar negara dalam sikap asasnya (principle attitude-nya), yaitu: (1) faham sekulerisme (la-dieniyah) tanpa agama, atau (2) faham agama (dieny).

Sdr. Ketua!

Apa itu sekulerisme, tanpa agama, la-dieniyah?

Sekulerisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham tujuan dan sikap hanya di dalam batas hidup keduniaan. Segala sesuatu dalam kehidupan kaum sekuleris tidak ditujukan kepada apa yang melebihi batas keduniaan. Ia tidak mengenal akhirat, Tuhan, dsb. Walaupun ada kalanya mereka mengakui akan adanya Tuhan, tapi dalam penghidupan perseorangan sehari-hari umpamanya, seorang sekuleris tidak menganggap perlu adanya hubungan jiwa dengan Tuhan, baik dalam sikap, tingkah laku dan tindakan sehari-hari, maupun hubungan jiwa dalam arti doa dan ibadah. Seorang sekuleris tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai moral itu ditimbulkan oleh masyarakat semata-mata. Ia memandang bahwa nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata, dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam penghidupan saat ini belaka...

Di lapangan ilmu pengetahuan, Sdr. Ketua, sekulerisme menjadikan ilmu-ilmu terpisah daripada nilai-nilai hidup dan peradaban. Timbullah pandangan bahwa ilmu ekonomi harus dipisahkan dari etika. Ilmu sejarah harus dipisahkan dari etika. Ilmu sosial harus dipisahkan dari norma-norma moral, kultur dan kepercayaan. Demikian juga ilmu jiwa, filsafat, hukum, dsb. Sekedar untuk kepentingan obyektiviteit. Sikap memisahkan etika dari ilmu pengetahuan ada gunanya, tetapi ada batas-batas dimana kita tidak dapat memisahkan ilmu pengetahuan dari etika.

Kemajuan ilmu teknik dapat membuat bom atom. Apakah ahli-ahli ilmu pengetahuan yang turut menyumbangkan tenaga atas pembikinan bom tersebut harus ikut bertanggungjawab atas pemakaiannya atau tidak? Bagi yang memisahkan etika dari ilmu pengetahuan mudah saja untuk melepaskan tanggungjawab atas pemakaian  bom itu. Di sini kita lihat betapa jauhnya sekulerisme. Ilmu pengetahuan sudah dijadikan tujuan tersendiri, science for the sake of science.

Di dalam penghidupan perseorangan dan masyarakat, sekulerisme la-dieniyah tidak memberi petunjuk-petunjuk yang tegas. Ukuran-ukuran yang dipakai oleh sekulerisme banyak macamnya. Ada yang berpendapat bahwa hidup bersama laki-laki dan wanita tanpa kawin tidak melanggar kesusilaan. Bagi satu negara menentukan sikap yang tegas terhadap hal ini adalah penting. Sekulerisme dalam hal ini tidak dapat memberi pandangan yang tegas, sedangkan agama dapat memberi keputusan yang terang.

Pengakuan atas hak milik perseorangan, batas-batas yang harus ditentukan antara hak-hak buruh dan majikan, apa yang kita maksud dengan perkataan “adil dan makmur”, ini semua ditentukan oleh kepercayaan kita. Sekulerisme tidak mau menerima sumber ke-Tuhanan untuk menentukan soal-soal ini. Kalau demikian terpaksalah kita melihat sumber paham-paham dan nilai-nilai itu semata dari pertumbuhan masyarakat yang sudah berabad-abad berjalan sebagaimana yang didorongkan oleh sekulerisme. Ini tidak akan memberi pegangan yang teguh. Ada beribu-ribu masyarakat yang melahirkan bermacam-macam nilai. Ambillah, misalnya soal bunuh diri. Ada masyarakat yang mengijinkan dan ada yang melarang. Yang mana yang harus dipakai? Bagi suatu negara mengambil sikap yang menentukan adalah penting, karena hukum-hukum mengenai sikap yang menentukan adalah penting, karena hukum-hukum mengenai persoalan itu akan dipengaruhi oleh sikap tersebut. Lagi, disini sekulerisme tidap dapat memberikan pandangan yang positif.

Jika timbul pertanyaan, apa arti penghidupan ini, sekulerisme tidak dapat menjawab dan tidak merasa perlu menjawabnya. Orang yang kehilangan arti tentang kehidupan, akan mengalami kerontokan rohani. Tidaklah heran, bahwa di dalam penghidupan perseorangan, sekulerisme menyuburkan penyakit syaraf  dan rohani. Manusia membutuhkan suatu pegangan hidup yang asasnya tidak berubah. Jika ini hilang, maka mudahlah baginya mengalami taufan rohani. Demikian akibat pemahaman sekulerisme dalam hidup orang perseorangan. Pengaruh agama terhadap kesehatan rohani ini telah diakui oleh ilmu jiwa jaman sekarang....

Ada satu pengaruh sekulerisme yang akibatnya paling berbahaya dibandingkan dengan yang saya telah sabut tadi. Sekuleris, sebagaimana kita telah terangkan, menurunkan sumber-sumber nilai hidup manusia dari taraf ke-Tuhanan kepada taraf  kemasyarakatan semata-mata. Ajaran tidak boleh membunuh, kasih sayang sesama manusia, semuanya itu menurut sekulerisme, sumbernya bukan wahyu Ilahi, akan tetapi apa yang dinamakan: Penghidupan masyarakat semata-mata. Umpamanya dahulu kala nenek moyang kita, pada suatu ketika, insaf bahwa jika mereka hidup damai dan tolong menolong tentu akan menguntungkan semua pihak. Maka dari situlah katanya timbul larangan terhadap membunuh dan bermusuhan.

Kita akan lihat betapa berbahayanya akibat pandangan yang demikian. Pertama, dengan menurunkan nulai-nilai adab dan kepercayaan ke taraf perbuatan manusia dalam pergolakan masyarakat, maka pandangan manusia terhadap nilai-nilai tersebut merosot. Dia merasa dirinya lebih tinggi daripada nilai-nilai itu! Ia menganggap nilai-nilai itu bukan sebagai sesuatu yang dijunjung tinggi, tapi sebagai alat semata-mata karena semua itu adalah ciptaan manusia sendiri...




Biarkan Letih Datang



“Bila kita merasa letih karena berbuat kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Bila kita bersenang-senang dengan dosa, kesenangan itu akan hilang dan dosa yang akan kekal.” (Umar bin Khathab)



Lelah saat berbuat kebaikan itu manusiawi. Saya pun terkadang merasakannya. Bahkan beberapa di antaranya saya menangis karena lelah yang amat sangat. Seperti pekan lalu, Senin saya baru pulang umroh Selasa saya harus memulai roadshow memberikan training di beberapa perusahaan seperti Indofood, BRI Syariah, ASEI, Bank Sulut dan beberapa komunitas di bebebrapa kota.

Namun alhamdulillah, hari ini letih itu telah pergi. Semoga apa yang saya lakukan berbuah pahala. Yang jelas, kesediaan saya untuk roadshow ke beberapa kota telah membuat bagian marketing di perusahaan saya happy. Target mereka di bulan Januari terlampui.

Kebaikan memang terkadang membuat lelah sementara perbuatan buruk terkadang menyenangkan. Tetaplah pilih yang membuat lelah karena dampaknya kekal dan berdampak panjang.


Kita juga perlu waspada karena terkadang dosa itu datang dengan penampakkan yang menyenangkan dan terkesan membuat kita bahagia. Namun akhirnya, penyesalan berkepanjanganlah balasan yang kita terima. So, nikmati saat lelah datang ketika kita berbuat kebaikan..

Salam SuksesMulia!


Monday, February 9, 2015

Swasembada Tanpa Riba, Bisakah ?



Oleh : Muhaimin Iqbal


Bisa jadi ada hikmah  besar di balik minimnya anggaran pemerintah dan enggannya bank –bank membiayai sektor pertanian, yaitu kita diberi kesempatan agar produksi makanan kita tidak tercampur dengan pembiayaan ribawi. Tantangannya kemudian adalah dari mana sektor ini akan mendapatkan kapitalnya bila tidak dari pemerintah dan tidak dari bank ? Bisa dari masyarakat langsung seperti yang kita lakukan rame-rame di project iGrow atau melalui pembiayaan yang aman tetapi belum banyak dikenal seperti pembiayaan Sistem Resi Gudang.



Bank-bank syariah umumnya bisa memberikan pembiayaan Sistem Resi Gudang ini dengan akad yang sesuai kebutuhan nasabah seperti mudharabah, murabahah atau musyarakah. Masalahnya adalah untuk bisa dilakukan pembiayaan seperti ini, barang dagangan atau komoditi Anda harus berada dalam pengelolaan gudang yang independent – independently controlled warehouse – mereka menyebutnya.

Barangkali karena kurangnya sosialisasi dan kurangnya kesiapan infrastruktur Sistem Resi Gudang ini – yang membuat pembiayaan yang aman dan baik untuk kedua belah pihak ini belum juga memasyarakat.

Saya melihat ada peluang lain untuk menyelamatkan petani melalui pembiayaan resi gudang ini. Aset petani yang berupa benda riil yaitu komoditi hasil penenannya tidak harus terpaksa  dijual pada saat harga jatuh di musim panen, karena mereka akan bisa memperoleh modal untuk menanam lagi meskipun hasil panenan sebelumnya belum habis terjual. Tentu saja bila produknya juga bisa diolah agar bisa tahan lama.

Bagi pemilik modal ini juga aman karena setiap pembiayaannya dijamin oleh adanya komoditi yang dikelola oleh pihak independent, komoditinya juga bukan komoditi yang tidak laku dijual – melainkan komoditi yang tidak harus dijual pada saat musim panen ketika harga komoditi tersebut umumnya jatuh.

Masalahnya lagi adalah siapakah pihak independent yang mengelola gudang yang bisa dipercaya kedua belah pihak tersebut, siapakah mereka ini yang paling siap ? Disinilah peran teknologi informasi bisa memberikan terobosannya – jadi teknologi informasi bisa membantu mengatasi riba ! Bagaimana caranya ?

Bila dalam pengertian pembiayaan Sistem Resi Gudang konvensional yang disebut gudang adalah tempat menyimpan barang terpusat – dimana pengelolaan keluar masuk barangnya ada pada pihak yang independent, sehingga pemilik barang tidak dengan mudah mengeluarkan barangnya tanpa sepengetahuan/seijin pemberi modal – maka teknologi informasi bisa mengatasi hal ini.

Yang disebut gudang tidak lagi harus tempat menyimpan stok dalam jumlah besar dan terpusat – karena ini justru membuat barang sulit berputar. Gudang bisa berupa stok kecil-kecil di sejumlah lokasi yang terintegrasi dengan jalinan system informasi.

Pemilik barang dan pemodal bisa sama-sama mengakses data stok setiap saat, termasuk berkurangnya stok ketika barang laku terjual. Untuk mengamankan kepentingan pemodal, bisa saja disepakati bahwa setiap hasil penjualan yang telah menjadi uang tunai – tidak boleh dicairkan oleh pemilik sebelum modal dari pemodal dikembalikan terlebih dahulu.

Project Natural.ID yang telah saya perkenalkan di beberapa tulisan sebelumnya selain untuk mengidentifikasi, memaksimalkan nilai tambah dan mempromosikan komoditi-komoditi hasil bumi terbarukan dari negeri ini – juga sangat dimungkinkan untuk mendukung pembiayaan Sistem Resi Gudang tersebut di atas.

Dengan solusi teknologi yang saat ini sedang kami kembangkan, akan sangat dimungkinkan misalnya Anda ( juga bank atau pihak lain yang mebiayai Anda ) secara real time memantau stok Anda yang menyebar di ratusan outlet konsinyasi – dimana outlet –outlet tersebut bukan milik Anda.

Bahkan lebih jauh dari itu bank atau pihak lain yang akan membiayai Anda akan bisa tahu secara real time pula dinamika pergerakan stok Anda baik yang telah lewat (history) maupun yang sedang berjalan – yang berarti juga mereka bisa mengetahui turn-over riil dari barang dagangan Anda. Semakin cepat stok berkurang berarti semakin laku, semakin tinggi pula kemampuan Anda untuk membayar atau mengembalikan modal.

Barangkali inilah salah satu rahasianya, mengapa satu dari dua lawan riba itu adalah perdagangan – sedangkan lawan riba lainnya adalah sedekah : “… Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba ... Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah…” (QS 2 : 275-276).

Artinya bila kita bekerja keras untuk mempromosikan perdagangan komoditi-komoditi hasil bumi kita, khususnya yang terkait kebutuhan pangan – maka melalui jalan inilah kita insyaAllah juga akan bisa mengeliminasi riba dari pengadaan komoditi pangan kita.

Jadi bonus dari majunya perdagangan adalah mundur atau berkurangnya riba, karena pemilik modal akan memilih modalnya untuk membiayai perdagangan langsung ketimbang modalnya diam dalam timbunan atau jaman sekarang dalam tabungan dan deposito.

Sebaliknya juga terjadi, ketika perdagangan tidak kita kuasai – sebagian dari kita yang memiliki modal tidak tahu bagaimana memutar harta yang seharusnya, akibatnya mereka memilih jalan yang sepintas aman – dengan menyimpan dananya dalam tabungan dan deposito – yang ujung-ujungnya adalah menumbuh kembangkan riba.

Dengan Project Natural.ID yang pengadaan systemnya pernah saya tawarkan kepada para pembaca situs ini, insyaAllah akan segera ada cikal bakal atau rintisan swasembada pangan yang sekaligus membebaskan pengadaan pangan ini dari pengaruh riba. Alhamdulillah kini sudah  siap beberapa team yang telah mulai mengembangkan system tersebut secara terintegrasi. InsyaAllah.


Sumber: GeraiDinar.com

Rumus Melibatkan Allah Dalam Berbisnis





Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak.




Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat.

Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat.

Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya. (HR. Muslim)

Di tengah acara sebuah komunitas wirausaha Muslim terjadi sebuah dialog untuk membangun dan mencari solusi ekonomi ummat, banyak hal yang dibahas tentang bagaimana membuka peluang usaha dan perlunya bersaing secara profesional dengan para pengusaha ‘non Muslim’ yang saat ini begitu menguasai perekonomian negeri ini, diskusi lama lama terkesan sangat teoritis, dan beberapa dari mereka terjebak kearah materialistik cara pandangnya, padahal semua yang hadir adalah kaum muslimin juga, tapi ternyata kami semua lupa, bahwa yang hadir tersebut memiliki warisan yang tak ternilai harganya. Ternyata umat Islam sudah memiliki rumusan dan standar usaha yang telah di bimbing oleh Rasul SAW dan dicontohkan oleh para sahabatnya ra, bimbingan yang sederhana, bimbingan yang sangat mendarat dan manusiawi, penuh fitrah, penuh sunnatullah, dan di-support dengan janji Allah. Allah melibatkan diriNYa atas janjiNya.

Berdasarkan hadis shahih di atas, mari kita urai dan tinjau agar mendapatkan makna dan rumusan agar urusan ujian manusia maupun bisnis muslim ini dapat melibatkan dan tertolong oleh bantuan Allah, sebagai berikut :

“Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak”

Siapa sih manusia yang tidak mengalami ujian dan cobaan dalam kehidupannya. Apalagi dalam menjalankan bisnis, ujian naik turun itu menjadi suatu hal yang berulang terjadinya. Ketahuilah setiap hamba Allah pasti mengalami masalah, mengalami kedukaan maupun kesukacitaan , tidak ada satupun yang terlepas dari seleksi Allah. Ujian dan cobaan kepada hamba Allah tersebut untuk menguji siapa yang lebih baik amalnya.

Justru menurut hadist di atas, dan itu adalah sunnah Allah, dikala kita mengalami kesulitan dan kesusahan dalam menghadapi ujian kehidupan, dan kita berharap sekali untuk diangkat kesulitan oleh Allah, justru salah satu solusinya adalah dengan membantu dan menyelesaikan kesusahan hamba yang lain. konsep ini sangat sulit dipahami dengan ilmu keduniaan, apalagi ilmu matematis. tapi inilah hukum Allah, inilah sunnatuLlah. inilah cara agar Allah terlibat! Mulailah dengan cara ini, niscaya permasalahan perekonomian umat akan tuntas.

Ingatlah sebuah contoh nyata yang pernah diabadikan dalam kisah sahabat Abdurrahman bin Auf ra dengan dipersaudarakan Saad bin Rabi ra dari Madinah.

Berkatalah Saad kepada Abdurrahman, Wahai saudaraku, aku adalah penduduk madinah yang kaya raya. Silahkan pilih separuh hartaku dan ambillah, dan aku mempunyai dua isteri, pilihlah salah satu yang menurut anda lebih menarik,dan akan aku ceraikan dia supaya anda bisa memperisterinya.

Jawab Abdurrahman bin Auf, “Semoga Allah memberkati anda, isteri anda dan harta anda. Tunjukkanlah jalan menuju pasar.”

Kemudian abdurrahman menuju pasar, membeli, berdagang dan mendapat untung besar, ketahuilah Allah terlibat! Allah berkahi saling tolong menolong tersebut, saling mendahulukan kepentingan saudaranya.

Pada suatu hari ia mendengar Rasulullah SAW, “Wahai Ibnu Auf, anda termasuk golongan orang kaya, dan anda akan masuk surga secara perlahan lahan. Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah jalan anda,” semenjak ia mendengar nasehat Rasulullah Saw tersebut, ia mengadakan pinjaman yang baik, maka Allah pun memberi ganjaran padanya dengan berlipatganda.

Ibnu Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya. Sebagai buktinya, ia tidak mau celaka dengan menyimpannya. Ia mengumpulkannya dengan santai dan dari jalan yang halal, tetapi ia tidak menikmati sendirian, keluarga, kerabat saudara dan masyarakat pun ikut menikmatinya. Karena begitu luas pemberian serta pertolongannya, orang orang madinah pernah berkata: “seluruh penduduk madinah berserikat (menjalin usaha) dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya kepada mereka, sepertiganya digunakan untuk membayar hutang hutang mereka, dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi bagikan kepada mereka.”

Mereka saling mendahulukan kepentingan saudaranya, Allah bukakan keberkahan, Allah bukakan peluang menguasai ekonomi ummat, Pasar Madinah yang tadinya dikuasai yahudi berpindah ke tangan muslimin, berawal dari sikap tolong-menolong (ta’awun) sesama muslimin, bermula dari saling memecahkan masalah saudaranya, menjadi penguasa ekonomi saat itu, inilah hukum Allah, inilah sunnatullah.

Inilah cara melibatkan Allah… bukan dengan cara bersaing dengan pebisnis non-muslim melalui sistem yang dibuat oleh non-muslim juga, mustahil akan tampil. Bila ingin ummat ini kembali lagi menuju kejayaannya tidak pernah terjadi dan unggul melalui sistem buatan manusia. Kalau mau tampil harus kembali bersandarkan kepada SunnatuLLah dan Sunnah RasulNya.

Pembahasan ini membuat terhenyak para wirausaha yang hadir, diskusi terhenti dan terhenyak diam, …semoga para peserta diskusi berfikir ulang dan mulai menapak tilas sunnah yang pernah dilakukan untuk membenahi kekuatan ekonomi ummat… Tolonglah sudaramu yang sedang kesulitan…. ini adalah langkah awal menuju kejayaan. (MM)

Sumber: eramuslim.com

Dengan sedikit editan

Makna Tersirat Dibalik Lagu Gundul-Gundul Pacul




Ada yang menarik dari sebuah kajian tentang lagu dolanan Jawa yang sudah lama dikenal oleh masyarakat luas secara turun temurun. Lagu ini judulya Gundul-Gundul Pacul. Syairnya sangat sederhana dan banyak anak-anak Jawa yang hafal semuanya. Namun siapa sangka jika lagu sederhana ini ternyata memiliki makna filosofis kehidupan yang sangat dalam?



Mari kita simak filosofi Lagu Gundul-Gundul Pacul, yang banyak tersebar di media sosial.

“Gundul-gundul Pacul Cul
Gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul kul
Gembelengan

Wakul nggelimpang segane
dadi sak latar 2x”

Gundul adalah kepala, dan orang jawa seringkali menggunakan istilah ini untuk kepala yang tidak memiliki rambut alias plontos. Namun kita akan melihat ‘kepala’ itu sendiri yang dianggap selama ini oleh para kawula sebagai lambang kehormatan dan kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota.

Sedangkan pacul: adalah cangkul yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani.

Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Ada juga menurut Orang Jawa yang memaknai pacul sebagai papat kang ucul (empat yang lepas).

Artinya bahwa: kemuliaan seseorang akan sangat tergantung kepada empat hal, yaitu: bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.

Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya. Karena itu ‘Gundul-gundul Pacul’ bisa dimaknai dengan dua hal:

Seorang pemimpin harus amanah, jangan hanya memikirkan kehormatannya. Gambaran seorang pemimpin yang tidak amanah, yang sudah kehilangan empat indra dan tidak sanggup lagi untuk menggunakan empat indra tersebut sebaik-baiknya.

Adapun Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.

Jadi, “Gundul-gundul pacul cul gembelengan’ artinya seorang pemimpin yang sejatinya harus menunaikan amanah rakyat ternyata menjadi sombong, selengekan, clelak-clelek, dan menjadikan kehormatannya sebagai sebuah permainan.

Sedangkan ‘Nyunggi-nyunggi wakul kul” artinya seorang pemimpin harus selalu nyunggi wakul (memikul bakul/tempat nasi, yang berarti mengupayakan kesejahteraan rakyat dan menjunjung amanah rakyat)

Namun dalam realitasnya sering ditemui pemimpin yang ‘nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan’ atau pemimpin yang hanya mementingkan perut dan udelnya sendiri akhirnya wakul ngglimpang (amanah jatuh tidak dapat dipertahankan). Segane dadi sak latar (berantakan sia-sia, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat)

Inti sarinya, mari kita memilih pemimpin yang amanah dan bertanggungjawab. Bukan pemimpin yang mementingkan kepentingannya sendiri. Sedang bagi para pemimpin sudah menjadi kewajiban kalian untuk menggunakan empat indra dengan sebaik mungkin agar tidak lepas hingga kalian mengabaikan amanah dan sia-sia.

Sumber: eramuslim.com

Dengan sedikit editan

Sunday, February 8, 2015

Unknown Risks : Mengapa Kedelai Lokal Lebih Sehat Ketimbang Impor




Oleh : Muhaimin Iqbal


Kita sering mendengar istilah you are what you eat – Anda tergantung dari apa yang Anda makan. Kalimat yang sering digunakan untuk iklan makanan ini sebenarnya bisa menjadi sangat menarik apabila kita pahami makna yang sesungguhnya. Bahwa kita sangat dipengaruhi oleh apa yang kita makan, maka Allah-pun memerintahkan kita untuk memperhatikan makanan kita (QS 80 : 24). Kalau saja kita bener-bener melaksanakan satu perintah ini, kita akan rela mati-matian untuk memperjuangkan swasembada pangan kita sendiri. Mengapa ?

sumber gambar : geraidinar.com


Ambil contoh kasus satu saja yaitu kedelai yang harus kita impor mayoritasnya karena kita tidak memprodukinya sendiri dengan cukup, apa dampaknya ? Karena kita tidak punya pilihan lain, maka kita telan begitu saja kedeleai impor tersebut tanpa ada upaya untuk mempelajari apa isinya.

Petani kedelai menjadi tidak bergairah karena kalah bersaing dengan kedelai impor, negeri ini harus mengorbankan trilyunan Rupiah setiap tahunnya untuk mengimpor kedelai. Perajin tempe dan tahu-pun menjadi tergantung pada komoditi impor ini, sewaktu-waktu harga melonjak hanya karena Rupiah melemah misalnya – sudah tidak ada yang bisa mereka perbuat.

Tetapi bukan hanya itu masalahnya, masalah terbesar dari kedelai impor adalah dampak resiko-resiko yang belum diketahui (unkown risks) dari mengkonsumsi kedelai impor tersebut – karena hampir pasti mayoritas kedelai impor kita adalah kedelai GMO – Genetically Modified Organism.

Tahun 1997 saya masih rajin mencari ilmu asuransi ke Eropa, saat itu tanaman GMO ini masih relatif baru. Pasarnya di dunia saat itu baru sekitar 3 %, saat itupun industri asuransi sudah mewaspadai resiko makanan GMO ini sehingga mereka menaruh exclusion – pengecualian atau tidak dijamin semua resiko yang terkait langsung maupun tidak langsung dari tanaman GMO ini. Ini menunjukkan betapa dasyatnya resiko  yang tidak diketahui dari makanan berbasis GMO ini.

Dalam dasawarsa terakhir pasar komoditi hasil pertanian GMO ini seperti tidak terbendung. Untuk kedelai, tiga produsen kedelai terbesar dunia yaitu Amerika, Brasil dan Argentina komposisi tanaman GMOnya masing-masing sudah mencapai 94 %, 88 % dan 98 %. Padahal produksi kedelai dari tiga negara ini mewakili lebih dari 80 % kedelai dunia. Jadi bisa dibayangkan, impor dari manapun hampir pasti kita akan ketemu kedelai GMO !


Nah sekarang apa masalahnya dengan GMO ini ? bukankan ini teknologi yang baik yang bisa meningkatkan produksi ? Alasan para pemegang patent-nya memang demikian, tetapi Allah Maha Tahu apa yang mereka rencanakan.

Maka pasti bukan kebetulan kalau terkait masalah ini, Allah sudah mengingatkan kita dengan petunjukNya sebagai berikut :


“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menakjubkanmu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan keturunan, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS 2 : 204-205)


Dua ayat tersebut sangat relevan dengan masalah swasembada pangan  yang kita hadapi saat ini. Pertama kita diberi tahu bahwa ada pihak yang menakjubkan kita ketika mereka bicara urusan dunia, siapa mereka ini ? siapa yang paling menakjubkan kita ketika bicara masalah dunia politik, ekonomi, budaya, teknologi dlsb. saat ini ? kita pasti tahu siapa-siapa mereka ini.

Lantas apa yang diperbuat oleh pihak yang menakjubkan ini di belakang kita ? mereka merusak tanaman dan keturunan ! bagaimana mereka melakukannya ?

Kedelai yang merupakan salah satu karya Allah Yang Maha Tahu, dianggap oleh mereka sebagai organisme yang kurang sempurna – maka mereka berupaya dengan teknologi yang mereka kuasai untuk ‘menyempurnakan’ kedelai ini. Diambillah gen dari bakteri yang namanya Agrobacterium tumefaciens, dan dimasukkanlah gen ini kedalam kromosom kedelai.

Karena yang diubah adalah ditingkat gen ini (bahasa latinnya gene dari genesis – yang artinya kelahiran/keturunan), maka kedelai yang sudah diubah gen-nya tersebut akan terbawa sampai ke anak keturunannya.

Bagaimana kalau kedelai tersebut dimakan manusia ? disitulah masalahnya. Ilmu manusia ini terbatas, kita tidak bisa tahu dampak dari setiap perubahan yang kita lakukan – apalagi kalau perubahan ini tidak didasari suatu petunjukNya.

Karena ketidak tahuan inilah maka industri asuransi-pun memasukkannya sebagai unknown risk yang patut dikecualikan dalam jaminannya. Bahkan di Eropa, mereka melakukan moratorium – menghentikan impor komoditi hasil rekayasa genetika  sejak 2003 – kecuali dengan peraturan yang sangat ketat, meskipun untuk pakan ternak sekalipun. Karena ternak ujungnya dimakan manusia, resiko yang ada di dalamnya akan terbawa pula.

Sepandai-pandai mereka menutupi suatu rahasia, akhirnya toh akan terbongkar juga. Untuk mengetahui rahasia karya mereka terhadap tanaman GMO ini-pun kita tidak perlu jauh-jauh dari teman-teman mereka sendiri.

Sebagaimana diinformasikan di Al-Qur’an  “…Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah…” (QS 59 :14)

Di Perancis ada suatu lembaga yang namanya Committee for Research and Independent Information for Genetic Engineering (CRIIGEN). Mereka inilah salah satu pihak yang berhasil melakukan penelitian independen – untuk mengetahui dampak dari makanan GMO. Video hasil penelitian mereka ini dapat Anda saksikan di link ini.

Tumor yang hampir sebesar perut tikus percobaan di video tersebut terjadi pada usia tikus selama 200 hari percobaan – atau kurang lebih 40 persen dari usia tikus rata-rata. Artinya kalau terjadi pada manusia kemungkinan dampaknya baru muncul pada rentang waktu sekitar 20-30 tahun.

Dunia baru mengkonsumsi secara massif produk GMO sekitar 10 tahun terakhir, di kita yang massif ini ada pada kedelai impor. Bila ada resiko yang kita belum tahu apa itu  – makanya diexclude oleh perusahaan asuransi – kemungkinan baru terjadi dalam  10-20 tahun yang akan datang.

Namun sebelum resiko-resiko itu bermunculan, harusnya kita bisa berbuat. Apa yang paling memungkinkan kita bisa lakukan ? ya kembali menyimak baik-baik perintahNya dalam surat ‘Abasa tersebut di atas. Yaitu memperhatikan makanan kita, terus berbuat mulai dari yang kita bisa. InsyaAllah kita bisa !.


Sumber: GeraiDinar.com

Dengan pengubahan judul

Thursday, December 25, 2014

Rekayasa Foto Cut Nyak Din untuk Sesatkan Fakta Sejarah



Rekayasa Foto Cut Nyak Din untuk Sesatkan Fakta Sejarah. Pemerintah Sekuler banyak Sesatkan tentang Sejarah Aceh untuk melemahkan Generasi Aceh. Seorang penulis buku yang menemukan foto aslinya Cut Nyak Din dari negara penjajah adalah sosok muslimah yang menutup aurat.




Jahatnya skenario kaum penjajah,terus ditanamkan kepada anak-anak bangsa Aceh, sehingga sejarahpun diplintirkan dan disuguhkan dengan bahasa yang manis,bahkan masuk menjadi memori yang tidak akan terlupakan,pelajaran sejarah di negeri kapitalis.

Dalam pelajaran sejarah,Banyak pahlawan perempuan Aceh yang digambarkan bersanggul dsb,seperti Cut Nyak Din,Cut Meutia,Panglima Laksamana Malahayati.

barangkali satu-satunya didunia ini Angkatan Laut yg dipimpin perempuan saat itu dan masih banyak lagi pahlawan-pahlawan perempuan aceh lainnya.

Saking alerginya pemerintah sekuler pada Islam yang benar, foto seorang muslimah yang menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya sanggup mereka rubah menjadi gambar wanita yang terbuka auratnya, walaupun itu seorang wanita pahlawan nasional sekalipun.

Lihatlah foto asli ini dan lihatlah apa yang dilakukan sekuleris dengan gambar-gambar beliau di buku-buku pelajaran sejarah.

Disini terlihat jelas, dibawah sistem sekuler, negara bukannya melindungi dan memurnikan akidah umat, tapi justru jadi biang perusakan akidah umat.

Selamatkjan umat Islam negeri ini dengan membuang sistem kufur, sekulerisme dan kembali pada sistem Islam, Syariah dan Khilafah.

Kita mengetahui juga bagaimana upaya VOC dan Belanda, untuk menekan kekuatan iman masyarakat Aceh. Mereka mengirim para misionaris, untuk mengusik keimanan masyarakat Aceh yang telah mengkristal dengan islamnya.

Di pemerintahan Orde Baru, yang memulai jalan sekulerisasi di seluruh bidang, menekan masyarakat untuk tidak membangkitkan nilai-nilai keislaman yang tinggi. Akibatnya, masyarakat Aceh sempat luntur keimanan mereka kepada Allah.

Namun, kekuatan iman yg begitu kristal itu tetap saja terus melahirkan hasil. Salah satunya, upaya Aceh untuk membumikan islam sebagai syariat manusia, telah diupayakan. Meskipun campur tangan sekuler tetap terlibat didalamnya.

Luar biasa...catat !!! Mereka muslimah yang taat !!!
Dan ternyata seorang penulis buku yang menemukan foto aslinya Cut Nyak Din dari negara penjajah adalah sosok muslimah yang menutup aurat.

Subhanallah...
Alhamdulillah...
Allahu Akbar...


Semoga menjadi pelajaran bermanfaat buat kita,siapkan diri menjadi anak unggul,dan ibu cerdas,dengan Syariah !!

Sumber : https://www.facebook.com/pages/Seuramoe-Mekkah